oleh

Pascagempa Flores, Kemenag Mabar Percepat Pendampingan Umat dan Pemulihan Rumah Ibadah

NTT.SIBERINDO.CO — Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Republik Indonesia bersama Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat mengintegrasikan Program Penguatan Moderasi Beragama dengan aksi kemanusiaan pascabencana. Langkah konkrit ini diwujudkan melalui kunjungan kepedulian, penyaluran bantuan tali kasih oleh Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Republik Indonesia senilai Rp5.000.000 (lima juta rupiah), serta doa bersama lintas agama untuk pemulihan psikologis (trauma healing) masyarakat terdampak gempa Flores yang bertempat di Pendopo Katedral Labuan Bajo, Selasa (01/09/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Asi, Kasubbag TU, Kasi Urusan Agama Katolik (Urakat), Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Manggarai Barat, Pengurus FKUB Provinsi NTT, Pengurus FKUB Kabupaten Manggarai Barat, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Manggarai Barat, Ketua NU Kabupaten Manggarai Barat, Ketua Baznas Kabupaten Manggarai Barat, serta jajaran Pengawas dan Penyuluh Agama Lintas Agama Kemenag Manggarai Barat. Sebelum tiba di Labuan Bajo, rombongan Asosiasi FKUB RI telah menuntaskan safari kepedulian serupa di wilayah flores yang terdampak.

Ketua Umum Asosiasi FKUB RI, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, menegaskan bahwa penanganan dampak pascabencana merupakan momentum nyata untuk membuktikan kokohnya pilar Moderasi Beragama di tengah masyarakat. Komitmen kebangsaan dan kemanusiaan universal menjadi indikator utama pergerakan tokoh lintas iman ini.

“Kita semua bersaudara dalam rumah besar NKRI. Pertemuan ini didasari cinta kasih dan toleransi murni. Inilah esensi sejati dari Moderasi Beragama yang digaungkan oleh Kementerian Agama,” ujar Ida Pangelingsir. Ia juga memanfaatkan momentum ini untuk mengetuk kepedulian nasional, mendesak pemerintah pusat, BUMN, hingga para pengusaha besar agar mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) secara masif guna merekonstruksi hunian warga yang hancur.

Kepala Kantor Kemenag Manggarai Barat, Fransiskus Xaverius Adi, mengungkapkan bahwa meskipun tingkat kerusakan fisik tidak seberat wilayah lain, dampak psikologis dan rasa cemas akibat gempa susulan masih membayangi aktivitas harian warga serta kekhusyukan ibadah umat.

Baca Juga  8 Siswa MAN 1 Ngada lolos OMI Tingkat Provinsi NTT

Berdasarkan data yang dikoordinasikan bersama BNPB dan Kementerian PUPR, infrastruktur keagamaan yang terdampak gempa di wilayah Manggarai Barat meliputi:

  • Gereja Katolik: 64 lokasi terdampak (22 rusak ringan, 42 rusak berat).
  • Masjid dan Mushala: 44 lokasi terdampak (5 rusak ringan, 38 rusak berat).
  • Gereja Kristen: 5 tempat ibadah terdampak.
  • Pura (Agama Hindu): 1 lokasi mengalami kerusakan fisik.

“Masyarakat sangat membutuhkan dukungan doa dan kehadiran fisik kita untuk memulihkan mental mereka. Kemenag Mabar bergerak cepat mendorong integrasi data ini ke dalam program Bantuan Sarana dan Prasarana Rumah Ibadah Kemenag agar segera mendapat atensi rehabilitasi dari pemerintah pusat,” tegas Fransiskus.

Guna mengoptimalkan pemulihan psikologis umat (trauma healing), Kemenag Mabar memaksimalkan peran fungsional para Penyuluh Agama Lintas Agama di lapangan. Para penyuluh diterjunkan langsung ke kantong-kantong pengungsian untuk memberikan pendampingan psikospiritual (Spiritual First Aid) agar masyarakat tetap tenang dan tangguh menghadapi cobaan.

Baca Juga  BeTA Jadi Tuan Rumah Piala Soeratin-15 Tunjuk Oleh Asprov PSSI NTT

Senada dengan hal tersebut, Ketua FKUB Kabupaten Manggarai Barat, RD. Rikardus Manggu, mengapresiasi kunjungan ini sebagai “surat cinta dari Tuhan” yang menguatkan moril para korban dan relawan. Ia menceritakan bagaimana komunitas Katolik dan Muslim di pesisir utara, seperti di Paroki Stasi Wae Garloka, bergotong royong bertahan hidup di bawah tenda darurat melalui jaringan Caritas Indonesia (Karina).

  1. Rikardus juga mengingatkan kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) dan relawan keagamaan di lapangan agar terus memelihara spiritualitas pelayanan sesuai dengan nilai luhur Kementerian Agama, yakni Ikhlas Beramal. “Kehadiran fisik antarsaudara di tengah krisis kebangsaan seperti ini jauh lebih berharga untuk menyelamatkan mental para korban daripada sekadar rutinitas kerja dinas,” pungkasnya.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin langsung oleh para tokoh agama dari rombongan Asosiasi FKUB RI, mengetuk pintu langit demi pemulihan total seluruh masyarakat di daratan Flores. ***

News Feed